Sabtu, 07 November 2009

N dari Nurcholish Madjid

Nurcholis Madjid Society Minta Kapolri Sampaikan Maaf
detikcom - Minggu, 8 NovemberKirimKirim via YMCetak

Nurcholis Madjid Society Minta Kapolri Sampaikan Maaf
Pernyataan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri yang secara tidak langsung mengaitkan Nurcholis Madjid (Cak Nur) dengan dugaan korupsi dikecam oleh para pendukung tokoh pluralisme agama ini. Nurcholis Madjid Society (NCMS) meminta Kapolri menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya tersebut.

"Kami meminta Kapolri menyampaikan permohonan maaf, jelas itu pernyataan ngawur," kata anggota Dewan Ahli NCMS Yudi Latif saat dihubungi detikcom, Minggu (8/11/2009).

Dalam Raker dengan Komisi III DPR, Kamis hingga Jumat dini hari (5-6/11/2099), Kapolri mencurigai KPK tidak menindaklanjuti temuan bukti aliran dana ke MS Kaban dari PT Masaro Radiokom karena Pimpinan KPK nonaktif Chandra Hamzah punya kedekatan emosional dengan mantan Menhut itu.

Kaban, dikatakan Kapolri, pernah menjadi saksi nikah Chandra dengan putri dari seorang tokoh yang sangat dihormati, 'N'. Belakangan diketahui N yang disebut Kapolri adalah Nurcholis Madjid.

Menurut Yudi, pernyataan tersebut tidak berdasarkan fakta. Ia menjelaskan, Putri Cak Nur, Nadia Madjid menikah dengan Chandra Hamzah tahun 1994 dan tidak mengundang Kaban.

"Dikatakan CH punya utang budi Kaban karena difasilitasi perkawinannya. Itu spekulasi, bukan fakta. Bahkan Kaban tidak diundang karena Cak Nur tak mengenal Kaban," ujar Yudi.

Yudi menambahkan, polisi juga lupa pernihakan itu terjadi pada tahun 1994, saat Kaban belum siapa-siapa.

"Dia belum terkenal, jadi nggak mungkin Cak Nur mengudang Kaban yang tidak dikenal dan belum siapa-siapa pada zaman itu," tegasnya.

Istri Almarhum Nurcholis Madjid Sesalkan Pernyataan Kapolri
Sabtu, 07 November 2009 06:19
Jakarta, Istri almarhum Nurcholish Madjid, Omi Komariyah, menyesalkan pernyataan Kapolri Jenderal Pol Bambang Handarso Danuri yang mengaitkan mendiang suaminya dengan kasus yang menimpa mantan mantunya, pimpinan KPK nonaktif Chandra M. Hamzah.

Ungkapan itu disampaikan melalui pesan singkatnya kepada Pengacara Chandra M Hamzah, Bambang Widjajanto.

Pengacara Chandra M Hamzah, Bambang Widjojanto, dalam jumpa persnya di Jakarta mengaku mendapatkan pesan singkat dari Omi Komariyah yang keberatan dengan pernyataan Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri yang menyatakan kasus PT Masaro yang tidak ditindaklanjuti KPK karena kedekatan CH dengan N.

CH yang dimaksud Kapolri adalah Chandra Hamzah dan N adalan Nurcholish Madjid.

Menurut Bambang dalam pesan singkatnya itu Omi meminta kepada kapolri agar menarik pernyataan itu karena dianggap menistakan. Bambang berharap Kapolri harusnya mengeluarkan pernyataan yang fokus pada permasalahan, agar kasus yang ada tidak bias.

Sebelumnya Kapolri mensinyalir kasus dugaan suap sebesar Rp 17,6 miliar dari PT Masaro radiokom kepada Mantan Menteri Kehutanan berinisial MK yang mengendap di KPK meski datanya sudah masuk sejak Agustus 2008 lalu.

Menurut Kapolri, KPK enggannya memeriksa kasus ini karena inisial MK cukup dekat dengan Chandra. MK-lah yang mengenalkan Chandra dengan Nadya Madjid, mantan istrinya yang juga putri Nurcholish Madjid. (Syarief/DS)

Minggu, 08/11/2009 09:56 WIB
Pernyataan Kapolri Soal Cak Nur Menjurus ke Pembunuhan Karakter
Laurencius Simanjuntak - detikNews

Jakarta - Pernyataan Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri yang mengaitkan Nurcholish Madjid (Cak Nur) dengan kasus dugaan korupsi terus menuai kecaman. Pendukung Cak Nur menilai pernyataan Kapolri dalam rapat kerja dengan Komisi III itu bukanlah berdasar fakta, tetapi spekulasi yang serampangan.

"Pernyataan itu serampangan dan menjurus ke arah pembunuhan karakter," kata Anggota Dewan Ahli Nurcholish Madjid Society (NCMS), Yudi Latif, saat dihubungi detikcom, Minggu (8/11/2009).

Selain sebagai tokoh pluralisme agama, kata Yudi, sosok Cak Nur juga merupakan ikon pemberantasan korupsi. Sehingga, lajutnya, mengaitkan sosok Cak Nur dengan kasus dugaan korupsi adalah hal yang menimbulkan pertanyaan.

"Selama hidup Cak Nur menjaga dirinya bersih dan menjunjung tinggi etika," ujarnya.

Dalam Raker dengan Komisi III DPR, Kamis hingga Jumat dini hari (5-6/11/2099), Kapolri mencurigai KPK tidak menindaklanjuti temuan bukti aliran dana ke MS Kaban dari PT Masaro Radiokom karena Pimpinan KPK nonaktif Chandra Hamzah punya kedekatan emosional dengan mantan Menhut itu.

Kaban, dikatakan Kapolri, pernah menjadi saksi nikah Chandra dengan putri dari seorang tokoh yang sangat dihormati, 'N'. Belakangan diketahui N yang disebut Kapolri adalah Nurcholish Madjid.

Menurut Yudi, pernyataan tersebut tidak berdasarkan fakta. Ia menjelaskan, Putri Cak Nur, Nadia Madjid, menikah dengan Chandra Hamzah tahun 1994 dan tidak mengundang Kaban.

"Dikatakan CH punya utang budi Kaban karena difasilitasi perkawinannya. Itu spekulasi, bukan fakta. Bahkan Kaban tidak diundang karena Cak Nur tak mengenal Kaban," ujar Yudi.

Yudi menambahkan, polisi juga lupa pernihakan itu terjadi pada tahun 1994, saat Kaban belum siapa-siapa.

"Dia belum terkenal, jadi nggak mungkin Cak Nur mengundang Kaban yang tidak dikenal dan belum siapa-siapa pada zaman itu," tegasnya.

(lrn/nrl)


Kontroversi Perkawinan Putri Cak Nur
Menggugat Syahadat Cara Yahudi


Jakarta, 16 April 2002 00:50
Perkawinan Nadia Madjid, putri Nurcholish Madjid, dengan David Bychkov, 29 September lalu di Washington, DC, Amerika Serikat, awalnya hanya diketahui kalangan terbatas. Tapi, sejak majalah bulanan Media Dakwah memuatnya di Nomor 334, April lalu, berita itu merebak ke mana-mana. Judulnya pun cukup mencolok: "Putri Nurcholish dinikahkan dengan Yahudi". Saat garang-garangnya Ariel Sharon menyerang di Jerusalem, isu pernikahan putri cendikiawan muslim terpandang di negeri ini dengan seorang Yahudi memang menarik.

Tapi sayang tulisan Media Dakwah itu memang tidak mendapat klarifikasi dari Cak Nur. Juga dari Abdul Nur Adnan, seorang penyiar Voice of America yang menjadi panitia pernikahan itu. Pada Gatra Cak Nur, begitu Rektor Universitas Paramadina Mulya, ini membeberkan perkawinan Nadia Madjid dengan David Bychkov, seorang Yahudi Amerika kelahiran Rusia. Bukti surat elektronik yang bersifat pribadi kepada putrinya, khotbah nikah, dan naskah ijab kabul juga disampaikannya.
Kontroversi Perkawinan Putri Cak Nur
Cak Nur: Semula Saya Ragu

Jakarta, 15 April 2002 19:01
SEHARI sebelum ulang tahunnya yang ke-63, Nurcholish Madjid mendapat "kado" istimewa berupa berita kecil di The New York Times.com edisi 16 Maret 2002. Berita bertajuk The Saturday Profile; An Islamic Scholar's Lifelong itu mengabarkan tentang pernikahan putri Cak Nur --panggilan akrab Nurcholish Madjid-- di sebuah apartemen di Washington, DC.

Berita dari New York Times itu akhirnya menyebar ke kalangan aktivis Islam, baik yang liberal maupun garis "keras". Atas dasar itu pula, majalah bulanan Media Dakwah edisi April 2002 mengangkatnya menjadi laporan khusus. Berita pun merebak: Cak Nur menikahkan putrinya dengan pemuda Yahudi. Bagaimana duduk masalahnya?

Senin pekan lalu, di Kampus Universitas Paramadina Mulya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Asrori S. Karni, Kholis Bahtiar Bakri, dan Mujib Rahman dari GATRA mewawancarai Cak Nur. Kutipannya:

Anda menikahkan Nadia (putri Cak Nur) dengan seorang Yahudi?
Dia itu seorang mualaf, mengucapkan syahadat sekitar September 2000.

Siapa yang menuntun pembacaan syahadat dan menyaksikan pengislaman itu?
Nadia sendiri. David memang menolak pengislaman itu dipublikasikan. Ia memperhitungkan stigmatisasi yang luar biasa berat. Di Amerika, kalau bukan Yahudi, akan mengalami kesulitan luar biasa. Misalnya, susah mencari kerja atau kariernya terhambat. Dan, saya maklum dengan situasi itu. Yang penting, dalam hatinya ia beriman. Ada pelajaran dari Al-Quran surah 66 ayat 11 bahwa istri Fir'aun juga menyembunyikan imannya karena situasi yang tak mengizinkan untuk beriman secara terang-terangan.

Apakah Anda yakin ia masuk Islam secara tulus?
Semula memang saya ragu. Sikap saya sebelumnya menolak dengan tegas. Bahkan saya pernah mengirim surat elektronik mengucapkan ''selamat tinggal'' selamanya kepada Nadia, bila ia tetap dengan pendiriannya. Meski dalam komunikasi dengan Nadia, ia selalu memberi jaminan bahwa calon suaminya itu akan masuk Islam, saya selalu ingatkan bahwa janji seperti itu seringkali tidak terbukti. Atau, dibuktikan namun nanti dibatalkan, karena lidah tidak bertulang.

Pada September 2001, setelah saya bertemu dengannya di Amerika Serikat, saya melihat sendiri bagaimana dia memahami Islam dan melakukan salat. Saya pun percaya. Namun, saya menuntut ia masuk Islam secara publik. Saat itu dia bilang, soal iman sudah mantap, dan itu akan dibuktikannya dengan amalan nyata. Baginya, publikasi akan menimbulkan berbagai kendala. Khususnya stigma masyarakat dan lingkungan sosialnya.

Bagaimana bila dia kembali Yahudi?
Saya yakin tidak. Saya mulai menarik hikmah dari kasus Khalid bin Walid, yang hendak membunuh seseorang yang bertingkah kasar terhadap Nabi. Nabi mencegah, karena boleh jadi orang tersebut melaksanakan salat. Kata Khalid, banyak orang salat hanya dengan lisannya, tidak dengan kalbunya. Kata Nabi, "Aku tidak diutus untuk memeriksa/menggali kalbu manusia dan tidak untuk membelah perut mereka." Atas pelajaran sunah yang relevan dengan kasus tersebut, semuanya kita serahkan kepada Allah SWT.

Siapa saksi dalam pernikahan tersebut?
Dua orang. Yaitu wartawan VOA asal Indonesia, Abdul Nur Adnan, dan Ketua Masyarakat Muslim Indonesia di Amerika, Firdaus Kadir. Saya sendiri yang menikahkannya.

Mengapa tidak mengundang teman-teman muslim di Amerika?
Ketika itu, waktunya mendesak sekali. Saya ke Amerika setelah ada serangkaian acara di Eropa. Yaitu Amsterdam, Oslo, Helsinki, dan terakhir ke Washington. Di Washington cuma sehari, esoknya, 30 September 2001 sore, saya sudah kembali ke Jakarta.

[AGAMA Gatra Nomor 22 Tahun ke VIII, Beredar 15 April 2002]

Tidak ada komentar: